Video Terpopuler

Home » » Prasasti Ini Cikal Bakal Lahirnya Bahasa Indonesia

Prasasti Ini Cikal Bakal Lahirnya Bahasa Indonesia

Prasasti Gondosuli, begitulah namanya. kendati tidak banyak orang berkunjung ke prasasti ini, namun batu itu punya kekhasan khusus. Menurut para ahli, prasasti ini dianggap salah satu tonggak evolusi Bahasa Indonesia.

Prasasti ini terletak di Dusun Gondosali, Desa gondosali, Kecamatan Bulu, Temanggung. Prasasti ini merupakan peninggalan depotisme Mataram Kuno. Menurut Juru Kunci Prasasti, bijaksana Pujianto, prasasti ini ditemukan di sekitar Candi Gondosuli yang saat ini hanya tinggal reruntuhan.

Arif mengatakan, batu ini dikeluarkan oleh Dang Karayan Pu Palar, pangeran kerajaan yang juga adik biras raja Mataram, Rakai Garung.Prasasti ini berukuran 50 cmx117 cm berasal bahan batu andest dan ditulis dengan aksara Jawa Kuno berangka tahun 792 masehi.

Tulisan dalam bersurat Gondosuli sungguh-sungguh sulit dibaca secara kasat mata. Namun prasasti ini tertulis 14 baris. Isi prasasti menyatakan kekuasaan tokoh Dang Karayan Pu Palar. Selain itu, juga menggambarkan luasnya penyebaran bahasa Melayu pada masa kekuasaan kerajaan Sriwijaya.

Menurut Arif Pujianto prasasti ini pernah diteliti oleh peneliti dari Amerika. "Peneliti melakukan penelitian pada bahasa yang ditulis baju bertulis ini. Bahasa dalam prasasti ini ternyata menggunakan adab Melayu Kuno,"paparnya.

Ia meneruskan adab Melayu Kuno merupakan bahasa penghubung (lingua franca) kepada perdagangan internasional, khususnya di daerah pesisir. Bahasa ini menurut strukturnya termasuk rumpun bahasa-bahasa Nusantara barat yakni budi Malagasi, Formosa di kepulauan Filipina, Jawa, Bali dan Sumatra.

"Dari dampak penelitian, prasasti ini dianggap sebagai salah satu tonggak perkembangan Bahasa Indonesia. Bahasa melayu di dalamnya menjadi bahasa penghubung," katanya.

Meski memiliki cerita riwayat tinggi, namun prasasti itu ajaib diminati. "Tidak banyak berbudi berkunjung, sering sepi. Padahal tidak ada ongkos masuknya," katanya.

Berdasarkan pantaun Tempo, takhta sekelilingnya pun juga terlihat tidak terawat. Puing-puing candi Gondosuli tampil berserakan dan tidak beraturan.

Arif menambahkan puing-puing candi pun banyak pekerti dicuri warga untuk membangun rumah. Namun, hingga saat itu pihaknya tidak bisa menemukan pelakunya. "Kami tidak bisa menuduh. Di sini banyak warga yang belum memahami benda cagar budaya," katanya.

Ia berharap pemerintah makin mempedulikan benda cagar budaya ini. Sebab, wujud itu kacau benda cagar adat ini dapat dicuri lagi serta tidak banyak dilirik orang.

Kepala Balai arkeologi Yogyakarta, Siswanto melanjurkan batu Gondosuli merupaklan peninggalan penting untuk belajar bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini cukup penting peranannya untuk menguak sejarak Mataram Kuno di wilayah Temanggung dan sekitarnya.

"Di rumit prasasti itu tinggal dimungkinkan untuk diketahui benda-benda jaminan budaya yang terpendam," ujar Siswanto.

Soal beberapa benda sandar budaya di lokasi prasasti yang dicuri, Siswanto pun pernah mendapatkan laporan. Hingga saat ini,pihaknya kesulitan untuk menemukan pelakunya.

"Kami berharap masyarakat makin peduli terhadap benda agun adat. Memang sekarang ini,kepedulian mereka berlebih minim,
Thalita NET. Diberdayakan oleh Blogger.